Tingkatkan Fleksibilitas Dan Likuiditas Bank, BI Naikkan GWM Jadi 3%

JawaPos.com – Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan porsi pemenuhan giro wajib minimum (GWM) rupiah Rata-rata (konvensional dan syariah) dari 2 persen menjadi 3 persen. Disamping itu, BI juga meningkatkan rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) baik konvensional dan syariah yang dapat direpokan ke BI dari 2 persen menjadi 4 persen yang dihitung dari Dana Pihak Ketiga (DPK) masing-masing perbankan.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, kedua kebijakan tersebut untuk meningkatkan fleksibilitas dan distribusi likuiditas di perbankan.

“Ini meningkatkan fleksibilitas dari manajemen meningkatkan likuiditas dan distribusi likuiditas, bukan mengetatkan,” ujarnya di Gedung BI, Jakarta Pusat, Kamis (15/11).

Perry menjabarkan, GWM Rupiah Rata-rata merupakan bagian dari GWM Primer yang saat ini di level 6,5 persen.

GWM sendiri adalah batas minimum simpanan perbankan dalam bentuk rekening giro. Sementara GWM rupiah rata-rata sendiri diartikan sebagai dana simpanan giro milik bank yang kini dihitung secara rata-rata selama dua minggu.

Sementara PLM merupakan perhitungan yang bisa menjadi underlying bagi perbankan melakukan repo atas surat berharga ke BI, seperti SBN, SBI.m, dan sejenisnya. Dengan rasio PLM meningkat maka diharapkan likuiditas antar perbankan semakin lancar.

“Dengan menaikkan porsi yang bisa direpokan dari 2 persen jadi 4 persen, sehingga seluruh surat-surat berharga yang dimilik bank pemenuhan PLM bisa jadi underlying repo ke BI. Bisa meningkatkan likuiditas bank,” tuturnya.

Sebagai informasi, BI mencatat rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan terjaga pada tingkat yang aman mencapai 22,9 persen. Sementara rasio likuiditas (AL/DPK) terjaga sebesar 19,2 persen pada September 2018, meningkat dibandingkan posisi Agustus 2018 sebesar 18,3 persen.

(mys/JPC)